Biografi Abdullah bin Abbas radhiallahu 'anhuma : Sang Penerjemah Al-Quran
Rabu, 14 Agustus 2013
0
komentar
إِنَّ اللهَ يَرْفَعُ بِهَذَا الْكِتَابِ أَقْوَامًا وَيَضَعُ بِهِ آخَرِينَ
“Sesungguhnya Allah mengangkat derajat suatu kaum karena kitab ini (yakni Al-Quran) dan merendahkan kaum lainnya dengannya.” [H.R. Muslim dari shahabat Umar bin Al-Khaththab radhiallahu 'anhu
Inilah
sepenggal hadits yang menunjukkan dahsyatnya ilmu Al-Quran. Ilmu ini
akan mengangkat derajat suatu kaum atau merendahkannya tergantung dengan
kualitas keilmuan dan pengamalan Al-Quran.
Dalam sejarah Islam yang gemilang, tercatatlah nama Abul Abbas Abdullah bin Abbas radhiallahu 'anhuma.
Beliau adalah seorang shahabat mulia yang telah mengecap manisnya ilmu
syariat semenjak kecil. Kemuliaan demi kemuliaan dia raih setimpal
dengan ilmu yang dia peroleh. Tentu kisahnya menarik untuk kita cermati
dan kita ambil pelajaran darinya.
Abdullah bin Abbas radhiallahu 'anhuma
Abdullah
bin Abbas adalah anak dari Al-Abbas bin Abdul Muththalib bin Qushay
Al-Qurasyi [ranhu], paman Nabi `[saw]. Ibu beliau bernama Ummul Fadhl
Lubabah binti Al-Harits Al-Hilaliyah. Beliau lahir tiga tahun sebelum
hijrah Nabi [saw] ke Madinah dan berumur tiga belas tahun ketika Nabi
[saw] meninggal. Dalam sebagian riwayat disebutkan, beliau berbadan
gemuk, putih, dan tinggi. Beliau adalah seorang yang pandai serta fasih
berbicara. Banyak dari lawan bicara Ibnu Abbas mengikuti pendapatnya
setelah berdialog dengannya. Seorang ulama tabi’in, Masruq bin
Al-Ajda’ [rahimahu] mengatakan, “Ketika aku melihat Abdullah bin Abbas,
aku katakan, ‘Dia adalah orang yang paling tampan.’ Lalu ketika dia
berbicara aku katakan, ‘Dia orang yang paling pandai bicara.’ Dan ketika
dia berbicara aku katakan, ‘Dia orang yang paling berilmu.’”
Ulama
tabi’in lainnya, Abu Wa`il Syaqiq bin Salamah [rahimahu] mengatakan,
“Ibnu Abbas berkhutbah kepada kami pada musim haji. Beliau membuka
dengan Surat Nur. Beliau membacanya dan menafsirkannya. Aku pun
mengatakan, ‘Aku tidak pernah melihat atau mendengar ucapan seseorang
yang semisal ini. Anda Persia, Romawi, dan Turki mendengarnya, niscaya
mereka akan masuk Islam.”
Soal tafsir pun Ibnu Abbas radhiallahu 'anhuma ahlinya. Abdullah bin Mas’ud [ranhu], seorang ulama shahabat, mengakui kepiawaian Ibnu Abbas radhiallahu 'anhuma
dengan mengatakan, “Penafsir Al-Quran yang paling baik adalah Ibnu
Abbas. Jika dia berumur seperti kita, niscaya tidak ada seorang pun dari
kita yang ilmunya mencapai sepersepuluh ilmunya.”
Al-Qasim
bin Muhammad mengatakan tentangnya, “Aku tidak melihat di majelis Ibnu
Abbas satu kebatilan pun. Aku tidak pernah mendengar fatwa yang lebih
cocok dengan sunnah daripada fatwanya. Para muridnya menjuluki beliau
Al-Bahr (lautan ilmu) dan Al-Habr (tinta).” Demikianlah, Ibnu Abbas radhiallahu 'anhuma dijuluki Habrul Ummah.
Siapa
tak kenal Umar bin Al-Khaththab [ranhu], Sang Khalifah kedua setelah
Abu Bakr? Ternyata, shahabat sekelas Umar pun mengakui keilmuan Ibnu
Abbas yang waktu itu masih muda. Tercatat oleh Al-Bukhari di dalam kitab
Shahih beliau bahwasanya suatu saat Umar memasukkan
Ibnu Abbas muda ke dalam majelisnya bersama para tokoh Islam. Pada waktu
itu, para tokoh Badr yang telah matang dalam usia sangsi akan kemampuan
Ibnu Abbas. Mereka pun bertanya kepada Umar, “Kenapa Anda memasukkan
pemuda ini ke tengah majelis kita padahal kami juga punya anak seperti
dia?”
Umar pun menjawab, “Kalian telah mengetahui tentangnya (yakni kepandaiannya, red.)”
Suatu
saat, Umar memanggil Ibnu Abbas ke tengah majelis mereka untuk
memperlihatkan kepandaian Ibnu Abbas. Umar menanyakan kepada mereka,
“Apa yang kalian ketahui tentang firman Allah ta’ala (yang artinya), ‘Jika telah datang pertolongan Allah dan penaklukan.’ [Q.S. Al-Nashr:1-3]?”
Sebagian
tokoh Badr tersebut pun menjawab, “Allah memerintahkan kita untuk
beristighfar setelah Allah menolong dan memudahkan kita untuk
menaklukkan kota Mekah.” Sedang sebagian lainnya memilih diam.
Sekarang giliran Ibnu Abbas, “Demikiankah?” kata Umar kepada Ibnu Abbas.
Ibnu Abbas mengatakan, “Tidak.”
“Lantas, apa menurutmu?” tanya Umar.
Ibnu Abbas mengatakan, “Itu adalah wafatnya Rasulullah `, Allah memberitahukannya kepada beliau. ‘Jika datang kepadamu pertolongan dan penaklukan.’ [Q.S. Al-Nashr:1] itu adalah tanda dari dekatnya wafat Nabi ` ‘Maka bertasbihlah dengan pujian kepada Rabbmu dan mintalah ampun. Sesungguhnya Dia Maha Pengampun.’ [Q.S. An-Nashr:3].
Umar pun mengatakan, “Aku tidak mengetahuinya kecuali seperti apa yang engkau katakan.”
Demikianlah
ketajaman dan ketelitian Ibnu Abbas dalam memahami wahyu. Dia
mengetahui bahwa perintah istighfar tidak biasa digunakan ketika terjadi
kemenangan dan penaklukan. Dia mengetahui bahwa perintah istighfar dan
taubat biasanya digunakan untuk mengakhiri sesuatu, maka dia pun
menafsirkan pertolongan dan penaklukan dalam ayat tersebut sebagai tanda
akan diwafatkannya beliau. [I’lamul Muwaqqi’in karya Ibnul Qayyim [rahimahu] ].
Tidak
hanya tafsir, Ibnu Abbas juga pandai dalam banyak perkara. Murid Ibnu
Abbas, Atha` bin Abi Rabah [rahimahu] mengatakan, “Banyak orang
mendatangi Ibnu Abbas untuk mempelajari syair dan nasab-nasab. Orang
yang lain mendatangi Ibnu Abbas untuk mempelajari sejarah hari-hari
peperangan. Dan kelompok lainnya mendatangi Ibnu Abbas untuk mempelajari
ilmu agama dan fikih. Tidak ada satu golongan pun dari mereka kecuali
mendapatkan apa yang mereka mau.”
Berawal Dari Doa Yang Mustajab
Berbagai
keutamaan yang Ibnu Abbas raih ini sejatinya tidak lepas dari doa
mustajab yang dipanjatkan oleh Rasulullah [saw]. Saat itu,
Rasulullah [saw] hendak buang hajat. Ibnu Abbas kecil memahami kebiasaan
Rasulullah [saw] yang berwudhu setiap kali habis dari buang hajat. Dia
pun meletakkan air wudhu di tempat keluarnya Nabi [saw]. Lantas, ketika
Nabi [saw] melihat air wudhu yang sudah dipersiapkan, Rasulullah [saw]
pun bertanya, “Siapa yang meletakkan ini?” Ibnu Abbas menjawab, “Ibnu
Abbas.” Maka Rasulullah [saw] pun meletakkan telapak tangannya yang
mulia di bahu Ibnu Abbas kecil seraya berdoa:
اللَّهُمَّ فَقِّهْهُ فِى الدِّينِ وَعَلِّمْهُ التَّأْوِيلَ
“Ya Allah, berilah dia pemahaman dalam masalah agama dan ajarkanlah kepadanya tafsir.” [H.R. Al-Bukhari, Muslim, dan lainnya, ini lafazh Imam Ahmad].
Nah,
dari doa inilah kemuliaan demi kemuliaan kemudian dia peroleh. Namun,
tentu saja kemuliaan ini bukan turun dari langit begitu saja. Allah
memberi taufik kepada Ibnu Abbas untuk menuntut dan mencari kemuliaan
tersebut dengan sepenuh tenaga yang Allah karuniakan kepadanya, bukan
hanya dengan berpangku tangan.
Ibnu
Abbas menuturkan pengalamannya dalam menuntut ilmu, “Tatkala
Rasulullah [saw] telah berpulang ke hadirat Allah, aku mengatakan kepada
seorang Anshar, ‘Mari kita bertanya kepada para shahabat Rasulullah
[saw], mumpung sekarang mereka masih banyak.’
Orang Anshar itu pun menukas, ‘Aku heran, apakah engkau menyangka bahwa manusia membutuhkan dirimu?’”
Ibnu
Abbas tidak menggubris ucapannya. Dia pergi menemui para shahabat dan
menanyai mereka. Ibnu Abbas melanjutkan penuturannya, “Suatu hari, aku
mengetahui ada hadits dari seseorang. Aku pun mendatangi pintunya.
Ternyata orang tersebut sedang tidur siang. Aku pun beralas baju atasku
(pada waktu itu, baju atas berupa selendang) menunggunya di depan pintu.
Angin meniupkan debu ke wajahku. Lalu, setelah orang tersebut pun
keluar dan melihatku, dia berkata, ‘Wahai sepupu Rasulullah, kebutuhan
apa gerangan yang membuat Anda datang kepadaku? Kenapa Anda tidak
mengutus seseorang untuk kemudian aku yang akan mendatangi Anda?’
Aku pun mengatakan, ‘Tidak. Aku lebih berhak untuk mendatangimu lalu menanyaimu tentang hadits.’
Orang
Anshar tadi pun hidup hingga melihat orang-orang mengelilingiku untuk
menanyaiku. Dia pun berkata, ‘Sejak dahulu, pemuda ini lebih pandai
dariku.’”
Demikianlah
Ibnu Abbas yang sangat menghargai ilmu. Dia datang merendahkan diri
untuk mendapatkan ilmu, bukan dengan menunggu datangnya ilmu.
Selain itu, Ibnu Abbas radhiallahu 'anhuma
sangat menghargai dan menghormati para ulama disebabkan ilmu mereka.
Seorang ulama tabi’in Asy-Sya’bi mengisahkan, “Zaid bin Tsabit
[ranhu] (seorang ulama shahabat) mengendarai unta. Ibnu Abbas pun
menuntun untanya. Zaid mengatakan, ‘Jangan lakukan, wahai sepupu
Rasulullah [saw].’ Ibnu Abbas pun menyahut, ‘Seperti inilah kami
diperintahkan untuk memperlakukan ulama kami.’ Kemudian, Zaid bin Tsabit
mencium tangannya dan mengatakan, ‘Seperti inilah kami diperintahkan
untuk memperlakukan keluarga Nabi kami.”
Akhir Hayat Ibnu Abbas radhiallahu 'anhuma
Ibnu
Abbas meninggal di Tha`if pada tahun 68 H pada pemerintahan Ibnu
Zubair. Waktu itu, umur beliau sekitar 70 tahun. Di antara yang
menshalati beliau adalah seorang ulama tabi’in, Muhammad bin Ali bin Abu
Thalib yang dikenal dengan Ibnul Hanafiyah (w. 80 H). Beliau
mengatakan, “Telah meninggal seorang ulama rabbani bagi umat ini.”
Demikianlah uraian singkat mengenai biografi Abdullah bin Abbas radhiallahu 'anhuma,
seorang shahabat yang Allah karuniakan keutamaan ilmu kepadanya. Andai
kita menyebutkan seluruh keutamaan beliau, niscaya tidak akan tertampung
beberapa lembaran saja. Namun, cukuplah kiranya kisi-kisi dari biografi
ulama shahabat yang satu ini untuk melecut kita mempelajari ilmu
syar’i, ilmu yang kini mulai ditinggalkan oleh kaum muslimin. Sehingga,
kita mendapatkan bagian yang banyak dari warisan kenabian. Allahu a’lam bish shawab.
Referensi: Al-Isti’ab fi Ma’rifatil Ashhab, Imam Abu Umar Ibnu Abdil Barr
Al-Ishabah fi Tamyizish Shahabah, Imam Ibnu Hajar Al-‘Asqalani [rahimahu]
Sumber: http://tashfiyah.net
http://www.darussalaf.or.id/biografi/abdullah-bin-abbas-radhiallahu-anhuma-sang-penerjemah-quran/
Judul:
Biografi Abdullah bin Abbas radhiallahu 'anhuma : Sang Penerjemah Al-Quran
Semoga artikel ini bermanfaat bagi antum. Jika ingin mengutip, baik itu sebagian atau keseluruhan dari isi artikel ini harap menyertakan link dofollow ke
https://manaarussunah.blogspot.com/2013/08/biografi-abdullah-bin-abbas-radhiallahu.html
0 komentar :
Posting Komentar