Karamah Wali Bagian Dari Mukjizat Nabi

Posted by Unknown Senin, 21 Oktober 2013 0 komentar
Oleh: Al-Ustadz Abu Ismail Muhammad Rijal

وَعَنْ أَبِي مُحَمَّدٍ عَبْدِ الرَحْمَنِ بْنِ أَبِي بَكْرٍ الصِدِّيقِ أَنَّ أَصْحَابَ الصُّفَّةِ كَانُوا أُنَاسًا فُقَرَاءَ، وَأَنَّ النَّبِيَّ قَالَ مَرَّةً: مَنْ كَانَ عِنْدَهُ طَعَامُ اثْنَيْنِ فَلْيَذْهَبْ بِثَالِثٍ، وَمَنْ كَانَ عِنْدَهُ طَعَامُ أَرْبَعَةٍ فَلْيَذْهَبْ بِخَامِسٍ بِسَادِسٍ-أَوْ كَمَا قَالَ. وَأَنَّ أَبَا بَكْرٍ جَاءَ بِثَلَاثَةٍ، وَانْطَلَقَ النَّبِيُّ بِعَشْرَةٍ، وَأَنَّ أَبَا بَكْرٍ تَعَشَّى عِنْدَ النَّبِيِّ ثُمَّ لَبِثَ حَتَّى صَلَّى الْعِشَاءَ، ثُمَّ رَجَعَ، فَجَاءَ بَعْدَ مَا مَضَى مِنَ اللَّيْلِ مَا شَاءَ اللهُ. قَالَتْ لَهُ امْرَأَتُهُ: مَا حَبَسَكَ عَنْ أَضْيَافِكَ؟ قَالَ: أَوَ مَا عَشَيْتِهِمْ؟ قَالَتْ: أَبَوْا حَتَّى تَجِيءَ وَقَدْ عُرِضُوا عَلَيْهِمْ. قَالَ: فَذَهَبْتُُ أَنَا فَاخْتَبَأْتُ، فَقَالَ: يَا غُنْثَرُ، فَجَدَعَ وَسَبَّ، وَقَالَ: كُلُوْا لاَ هَنِيئًا، وَاللهِ لاَ أَطْعَمُهُ أَبَدًا. قَالَ: وَاَيْمُ اللهِ مَا كُنَّا نَأْخُذُ مِنْ لُقْمَةٍ إِلاَّ رَبَا مِنْ أَسْفَلِهَا أَكْثَرُ مِنْهَا حَتَّى شَبِعُوا، وَصَارَتْ أَكْثَرَ مِمَّا كَانَتْ قَبْلَ ذَلِكَ. فَنَظَرَ إِلَيْهَا أَبُو بَكْرٍ فَقَالَ مِالْرَأَتِهِ: يَا أُخْتَ بَنِي فِرَاسٍ مَا هَذَا؟ قَالَتْ: لاَ وَقُرَّةِ عَيْنِي لَهِيَ الْآنَ أَكْثَرُ مِنْهَا قَبْلَ ذَلِكَ بِثَلَاثِ مَرَّاتٍ! فَأَكَلَ مِنْهَا أَبُو بَكْرٍ وَقَالَ: إِنَّمَا كَانَ ذَلِكَ مِنَ الشَّيْطَانِ,يَعْنِي يَمِيْنَهُ.ثُمَّ أَكَلَ مِنْهَا لُقْمَةً، ثُمَّ حَمَلَهَا إِلَى النَّبِيِّ فَأَصْبَحْتُ عِنْدَهُ، وَكَانَ بَيْنَنَا وَبَيْنَ  قَوْمٍ عَهْدٌ، فَمَضَى الْأَجَلُ، فَتَفَرَّقْنَا اثْنَيْ عَشَرَ رَجُلًا، مَعَ كُلِّ رَجُلٍ مِنْهُمْ أُنَاسٌ، اللهُ أَعْلَمُ كَمْ مَعَ كُلِّ رَجُلٍ، فَأَكَلُوا مِنْهَا أَجْمَعُونَ

Baca Selengkapnya ....

Perbedaan Mukjizat, Karamah, dan Sihir

Posted by Unknown Sabtu, 19 Oktober 2013 0 komentar
Oleh: Al-Ustadz Abu Ismail Muhammad Rijal, Lc.

Tukang-tukang sihir, dukun, dan manusia semodel mereka seringkali memamerkan “kehebatan” mereka, kebal api atau kebal bacokan pedang. Sebagian mereka tidur di atas paku-paku tajam atau dengan bangganya memakan pecahan-pecahan kaca. Aneh memang. Televisi pun tak ketinggalan menayangkan acara-acara tersebut. Anehnya, perbuatan syirik tersebut dianggap kesenian, budaya yang mendatangkan devisa, dan lebih menyedihkan manakala seorang yang menyatakan dirinya muslim berdecak kagum menyaksikan “kehebatan” mereka. Allahul Musta’an. Sepintas, fenomena aneh di hadapan kita itu mirip dengan mukjizat Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam yang utuh tidak terbakar tatkala dilempar kaumnya di tengah kobaran api. Karena kemiripan antara mukjizat dan sihir dari sisi keduanya menyelisihi adat kebiasaan dan hukum alam, maka kita perlu memahami perbedaan mendasar antara mukjizat dan sihir.

Di antara hal penting yang menjadi kaidah membedakan antara mukjizat dan sihir:
1. Mukjizat berasal dari Allah Subhanahu wata’ala sebagai bentuk pemuliaan terhadap nabi dan rasul-Nya. Adapun sihir adalah amalan-amalan setan.
Bagaimana sihir terwujud? Tukang sihir dan dukun tidak mungkin melakukan perkara-perkara aneh tersebut melainkan jika mau memberikan persembahan kepada setan-setan, seperti menyembelih untuk jin, memberikan sesaji, atau yang semisalnya. Oleh karena itu, sihir adalah bentuk kekufuran kepada Allah Subhanahu wata’ala dan pelakunya kafir sebagaimana firman-Nya,
وَاتَّبَعُوا مَا تَتْلُو الشَّيَاطِينُ عَلَىٰ مُلْكِ سُلَيْمَانَ ۖ وَمَا كَفَرَ سُلَيْمَانُ وَلَٰكِنَّ الشَّيَاطِينَ كَفَرُوا يُعَلِّمُونَ النَّاسَ السِّحْرَ
“Mereka mengikuti apa yang dibaca oleh setan-setan pada masa kerajaan Sulaiman (dan mereka mengatakan bahwa Sulaiman itu mengerjakan sihir), padahal Sulaiman tidak kafir (tidak mengerjakan sihir), hanya setan-setan itulah yang kafir (mengerjakan sihir). Mereka mengajarkan sihir kepada manusia.” (al-Baqarah: 102)

2. Di antara perbedaan mendasar antara mukjizat dan sihir, mukjizat mengandung tantangan yang bersifat umum bagi penentang dakwah rasul untuk menghadapi mukjizat itu, kalau memang mereka mampu.
Allah Subhanahu wata’ala berfirman tentang mukjizat al-Qur’an,
قُل لَّئِنِ اجْتَمَعَتِ الْإِنسُ وَالْجِنُّ عَلَىٰ أَن يَأْتُوا بِمِثْلِ هَٰذَا الْقُرْآنِ لَا يَأْتُونَ بِمِثْلِهِ وَلَوْ كَانَ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ ظَهِيرًا
Katakanlah, “Sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa al-Qur’an ini, niscaya mereka tidak akan dapat membuat yang serupa dengannya, sekalipun sebagian mereka menjadi pembantu bagi sebagian yang lain.” (al-Isra’: 88)
Berbeda halnya dengan sihir, tidak ada seorang penyihir pun berani membuka tantangan secara umum. Sebab, mereka tahu, banyak pula manusia yang seprofesi yang mungkin mendatangkan sihir yang lebih kuat, dan ini merugikan mereka sendiri. Apalagi saat sihir dihadapkan dengan ayat-ayat al-Qur’an dan zikir, niscaya mereka akan menuai kekalahan dan kebinasaan.

3. Mukjizat diberikan oleh Allah Subhanahu wata’ala kepada nabi dan rasul-Nya tanpa laku/latihan tertentu, belajar, atau kaidah-kaidah yang harus senantiasa diterapkan.
Tidak pernah Nabi Musa ‘Alaihissalam mempelajari bagaimana tongkatnya berubah menjadi ular atau membelah lautan. Demikian pula semua mukjizat nabi dan rasul. Adapun sihir, ilmu ini memiliki kaidah-kaidah yang bisa dipelajari setiap orang, dengan syarat dia mau menjual agamanya. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,
وَلَٰكِنَّ الشَّيَاطِينَ كَفَرُوا يُعَلِّمُونَ النَّاسَ السِّحْرَ وَمَا أُنزِلَ عَلَى الْمَلَكَيْنِ بِبَابِلَ هَارُوتَ وَمَارُوتَ ۚ وَمَا يُعَلِّمَانِ مِنْ أَحَدٍ حَتَّىٰ يَقُولَا إِنَّمَا نَحْنُ فِتْنَةٌ فَلَا تَكْفُرْ ۖ فَيَتَعَلَّمُونَ مِنْهُمَا مَا يُفَرِّقُونَ بِهِ بَيْنَ الْمَرْءِ وَزَوْجِهِ ۚ وَمَا هُم بِضَارِّينَ بِهِ مِنْ أَحَدٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ ۚ وَيَتَعَلَّمُونَ مَا يَضُرُّهُمْ وَلَا يَنفَعُهُمْ ۚ
Hanya setan-setan itulah yang kafir (mengerjakan sihir). Mereka mengajarkan sihir kepada manusia dan apa yang diturunkan kepada dua orang malaikat di negeri Babil, yaitu Harut dan Marut, sedangkan keduanya tidak mengajarkan (sesuatu) kepada seorang pun sebelum mengatakan, “Sesungguhnya kami hanya cobaan (bagimu), sebab itu janganlah kamu kafir.” Mereka mempelajari dari kedua malaikat itu apa yang dengan sihir itu, mereka dapat menceraikan antara seorang (suami) dengan istrinya. Mereka itu (ahli sihir) tidak memberi mudarat dengan sihirnya kepada seorang pun kecuali dengan izin Allah. Mereka mempelajari sesuatu yang memberi mudarat kepadanya dan tidak memberi manfaat. (al-Baqarah: 102)

4. Sihir selalu bisa dikalahkan, baik dengan sihir yang lebih kuat maupun dengan zikir dan bacaan al-Qur’an. Berbeda halnya dengan mukjizat, tidak mungkin dikalahkan.
Allah Subhanahu wata’ala mengisahkan kekalahan sihir-sihir terhebat di zaman Musa ‘Alaihissalam. Sihir tidak mampu berhadapan dengan mukjizat Nabi Musa ‘Alaihissalam.
وَأَوْحَيْنَا إِلَىٰ مُوسَىٰ أَنْ أَلْقِ عَصَاكَ ۖ فَإِذَا هِيَ تَلْقَفُ مَا يَأْفِكُونَ () فَوَقَعَ الْحَقُّ وَبَطَلَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ () فَغُلِبُوا هُنَالِكَ وَانقَلَبُوا صَاغِرِينَ
Dan kami wahyukan kepada Musa, “Lemparkanlah tongkatmu!” Sekonyongkonyong tongkat itu menelan apa yang mereka sihirkan. Karena itu, nyatalah yang benar dan batallah yang selalu mereka kerjakan. Mereka kalah di tempat itu dan jadilah mereka orang-orang yang hina. (al-A’raf: 117—119)
Demikian empat hal di antara pokok-pokok perbedaan antara sihir dan mukjizat. Lantas bagaimana halnya dengan karamah, yaitu kejadian menakjubkan di luar kebiasaan yang mungkin terjadi pada wali-wali Allah Subhanahu wata’ala sebagai karamah (pemuliaan) bagi mereka, apakah sama dengan mukjizat? Karamah diberikan oleh Allah Subhanahu wata’ala kepada wali-wali-Nya, seperti apa yang Dia Subhanahu wata’ala berikan kepada Ashabul Kahfi berupa penjagaan dari kejelekan kaumnya dengan cara yang luar biasa. Mereka tidur selama 309 tahun dalam goa, seperti dikisahkan oleh al-Qur’an,
لَبِثُوا فِي كَهْفِهِمْ ثَلَاثَ مِائَةٍ سِنِينَ وَازْدَادُوا تِسْعًا
“Mereka tinggal dalam gua mereka tiga ratus tahun dan ditambah sembilan tahun (lagi).” (al-Kahfi: 25)
Karamah hampir sama dengan mukjizat. Keduanya dari Allah Subhanahu wata’ala, hanya saja karamah tidak diiringi dengan pengakuan kenabian. Pembahasan tentang karamah insya Allah akan kita khususkan pada rubrik “Hadits.”
Sumber : asysyariah.com

Baca Selengkapnya ....

KOREKSI KESHAHIHAN HADITS (2)

Posted by admin Selasa, 17 September 2013 0 komentar
DIANTARA DALIL YANG DIPAKAI UNTUK MEMBOLEHKAN BERTAWASSUL DENGAN HAQ-NYA NABI MUHAMMAD SHALLALLAHU’ALAIHI WASALLAM :
Diriwayatkan dari Sahabat Umar bin Khatthab radhiyallaahu’anhu  bahwasanya Rasulullahshallallahu’alaihi wasallam bersabda : “Ketika Nabi Adam telah melakukan kesalahan, beliau berkata :”Wahai Tuhanku, aku memohon kepada-Mu dengan haq Muhammad, agar Engkau mengampuni aku. “ Kemudian Allah berfirman: “Bagaimana engkau dapat mengetahui Muhammad?” Nabi Adam menjawab : “Wahai Tuhan-ku sesungguhnya ketika Engkau telah menciptakan aku, aku mengangkat kepalaku, kemudian aku melihat di tiang-tiang Arsy, tulisan
لا إله إلا الله محمد رسول الله
maka aku mengerti bahwa Engkau tidak akan mengumpulkan nama-Mu dengan nama orang lain, kecuali dengan orang yang paling Engkau sayangi.” Allah berfirman : “Oleh karena kamu memohon kepada-Ku dengan haq Muhammad, maka sungguh Aku mengampunimu dan andaikata tidak ada Muhammad, Aku tidak menciptakanmu.” (HR. Imam Baihaqi dengan sanad shahih, diriwayatkan juga oleh Imam Hakim, dan beliau menilai hadits ini shahih serta Imam Thabrani).
KOREKSI DALIL :
  1. Berkata Asy Syeikh Sholeh Alu Syeikh -hafizhahullah-:”Hadits ini diriwayatkan oleh sejumlah orang dari angkatan guru-guru al-Hakim, dari seangkatannya sendiri, dan angkatan sesudahnya. Semua meriwayatkan dari jalur Abdurrahman bin Zaid bin Aslam, dan banyaknya jumlah mereka tidaklah bisa memperkuat status hadits.”Al Qasthalani Az-Zarqani menyebutkan ucapan al-Baihaqi sebagaimana disebutkan dalam Syarhul Mawahib (1/76) : “Al-Baihaqi berkata : Abdurrahman bersendiri dalam meriwayatkan hadits ini.” Dan pensyarah al-Mawahib memahamkan maksudnya dengan mengatakan ;” Artinya hanya Abdurrahman sendiri, tidak ada orang lain yang ikut menuturkan hadits ini. Maka hadits ini gharib (aneh) disamping periwayatnya adalah dha’if (lemah).”
  2. Al Hafizh Adz-Dzahabi dalam Mizanul I’tidal (3/140-141) berkata : “Penuturan secara bersendiri oleh seorang shaduq dan orang dibawahnya, dianggap mungkar.(dibawah tingkatan shaduq, seperti : lemah hafalannya, banyak lupa dan kurang kecermatannya)
  3. Bagaimana bisa dikatakan “HR. Baihaqi dengan sanad shahih” , sementara Al Baihaqi yang meriwayatkan hadits di dalam Dala’ilun Nubuwwah (5/489) setelah menyebutkan hadits, beliau sendiri mengomentari salah satu perawi yang ada dalam sanad hadits tersebut, dengan mengatakan : “Abdurrahman bin Zaid bersendiri dalam menuturkan hadits ini sedangkan dia adalah dha’if (lemah).”Dan merupakan hal yang sangat dikenal dalam ilmu musthalah hadits, jika dalam sanad terdapat perawi yang dha’if dan ia bersendiri dalam meriwayatkan hadits maka riwayatnya dihukumi mungkar, sebagaimana penjelasan Al Hafidz Adz Dzahabi.
  4. Kalimat “diriwayatkan juga oleh Imam Hakim, beliau menilai hadits ini shahih” hal ini perlu ditinjau ulang karena Al Hakim berkata dalam Al Mustadrak (2/615): shahihul isnadyang bermakna bahwa sanad hadits ini shahih. Sedangkan ulama yang menggeluti hadits, mereka membedakan antara istilah shihhatul isnad” dengan istilah “shihhatul hadits”.(para ulama mereka membedakan antara istilah “sanad hadits ini shahih” dengan istilah“hadits ini shahih”).
  5. Kendati Imam Hakim menyebutkan bahwa hadits tersebut “shahihul isnad” (sanadnya shahih),namun perkataan beliau ini tidaklah bisa diterima dikarenakan beberapa alasan :
Alasan pertama :
Imam Hakim sendiri mengatakan dalam kitabnya Al Madkhal Ilat Tash-hih (1/154) : ”Abdurrahman bin Zaid bin Aslam meriwayatkan dari ayahnya hadits-hadits maudhu’(palsu).”
Dan pada bagian awal kitab Al Madkhal (1/114) Al Hakim mengatakan :” Aku akan menjelaskan -dengan memohon pertolongan dan taufik Allah- nama orang-orang yang majruh (dikritik) dari mereka, yang nampak bagiku cacat dengan dasar ijtihad dan karena (aku) mengetahui cacat mereka, bukan karena taklid kepada salah seorang imam. Menurut saya, bahwa periwayatan hadits-hadits mereka tidak boleh dihafal kecuali setelah menjelaskan keadaan mereka, karena sabda Nabi dalam haditsnya :”Siapa yang menuturkan suatu hadits, sedang dia melihat bahwa hadits itu dusta, maka dia termasuk salah satu pendusta.”
Imam Hakim pun menyebut nama-nama mereka diantaranya adalah : Abdurrahman bin Zaid bin Aslam.
Pertanyaan :
Mengapa perkataan Imam Hakim dalam Al Mustadrak, berbeda dengan perkataan beliau di Al Madkhal?
  • di dalam Al Mustadrak beliau menyatakan hadits di atas yang diantara perawinya ada Abdurrahman bin Zaid bin Aslam : hadits tersebut “shahihul Isnad” (sanadnya shahih)
  • di dalam al Madkhal beliau memasukkan Abdurrahman bin Zaid bin Aslam ke dalam nama-nama orang yang majruh (yang dikritik karena memiliki cacat dalam meriwayatkan hadits)
Jawabannya :
Kitab Al Madkhal ditulis sebelum kitab Al Mustadrak . Kitab Al Mustadrak ditulis pada tahun 393 H setelah beliau mencapai usia lanjut 72 tahun, keadaan beliau sudah berubah dan sering lupa. Hal ini menyebabkan penilaian beliau terhadap beberapa perawi dalam kitab-kitab sebelum Al Mustadrak seperti Al Madkhal dan Adh Dhu’afa, berbeda dengan penilaian beliau terhadap rowi tersebut di kitab Al-Mustadrak. Beberapa rawi yang beliau sebutkan di kitab Adh Dhu’afa (orang-orang yang dha’if/lemah), beliau tetapkan untuk ditinggalkan riwayatnya dan tidak boleh berhujjah dengannya, namun setelah usia beliau lanjut dan berubah hafalannya serta banyak lupa, beliau mencantumkan hadits- haditsnya sebagian mereka di dalam Mustadraknya dan menyatakannya shahih.
Al Hafizh Ibnu Hajar berkata dalam Lisanul Mizan (5/233) :” Sebagian ulama menyebutkan bahwa ia telah berubah dan sering lupa pada akhir usianya. Indikasinya, bahwa beliau menyebutkan sekelompok orang dalam kitab Adh Dhu’afa karya beliau dan memutuskan untuk meninggalkan periwayatan dari mereka dan melarang berhujjah dengan mereka, Kemudian beliau mengeluarkan hadits-hadits sebagian dari mereka dalam Mustadrak-nya dan menyatakan shahih. Contohnya : Beliau mengeluarkan hadits Abdurrahman bin Zaid bin Aslam di dalam Al Mustadrak, dan menghukumi haditsnya ‘shahihul isnad’, padahal ia telah menyebutkannya di dalam Adh Dhu’afa dengan menyatakan, “ Ia (yaitu Abdurrahman bin Zaid bin Aslam), telah meriwayatkan dari ayahnya hadits-hadits maudhu’ (palsu)….”
Imam As Sakhawi mengatakan dalam Fathul Mughits (1/36) :” Dikatakan bahwa penyebab hal tersebut karena beliau menyusunnya di akhir usianya, sementara beliau sudah sering lupa dan berubah atau beliau sudah tidak sempat lagi melakukan koreksi dan perbaikan.”
Kemudian, yang menyatakan bahwa Abdurrahman bin Zaid bin Aslam adalah dha’if / lemah, bukan hanya Imam Hakim.
Imam Abu Hatim Ar Razi berkata :”Dia sebenarnya seorang yang shalih, namun di dalam hadits ia adalah seorang yang dha’if/lemah.
Demikian pula Imam Ahmad, Imam Bukhari, Imam Nasa’i, Imam Daruquthni dan banyak lagi ahli hadits lainnya yang menyatakan bahwa ia dha’if / lemah. Imam Thahawi mengatakan : “ Haditsnya menurut para ulama hadits adalah sangat lemah sekali.”
Alasan kedua :
Di dalam sanad hadits yang diriwayatkan Al Hakim dan Al Baihaqi terdapat seorang rawi yang bernama Abdullah bin Muslim Al Fihri.
Adz Dzahabi di dalam Al Mizan (2/504) menjelaskan : “ Ia (yaitu Al Fihri) meriwayatkan dari Isma’il bin Maslamah bin Qa’nab dari Abdurrahman bin Zaid bin Aslam suatu hadits yangbathil, disebutkan di dalamnya : “Wahai Adam, kalau bukan karena Muhammad, Aku tidak akan menciptakanmu.” Diriwayatkan oleh Al Baihaqi dalam Dala’ilun Nubuwwah.”
Adz Dzahabi juga mengatakan :”Disebutkan oleh Ibnu Hibban bahwa ia (yaitu Al Fihri) tertuduhmemalsukan hadits.”
Alasan Ketiga :
Sanad hadits ini dinyatakan dha’if oleh banyak ulama hadits, diantaranya :
  • Al Baihaqi dalam Dalailun Nubuwwah (5/486)
  • Adz Dzahabi dalam Talkhisul Mustadrak (2/615) berkata : “Maudhu/palsu.” dan di dalam Al Mizan beliau berkata : “ Bathil.”
  • Al Hafidz Ibnu Katsir dalam Al Bidayah Wan Nihayah (2/323) beliau mengatakan tentang periwayat hadits tersebut :”ia diperbincangkan” dengan mengutip perkataan Al Baihaqi bahwa periwayatnya dha’if/lemah.
  • Al Haitsami dalam Majma’ Az Zawa’id (8/253)
  • As Suyuthi dalam Takhrij Ahadits Asy Syifaa’ (hal. 30)
  • Az Zarqani dalam Syarhul Mawahib (1/76)
  • Asy Syihab Al Khafaji dalam Syarh Asy Syifa (2/242)
  • Ibnu Iraq dalam Tanzihusy Syari’ah (1/76) beliau menyebutkan pendapat yang menyatakan “kebathilannya”.
Berkata Asy Syeikh Sholeh Alu Syeikh hafidzahullah :”Jadi hadits ini jika ditinjau dari sanadnya iamaudhu/palsu, sedangkan jika ditinjau matannya ia bathil.”.
WALLOHU A’LAM. WABILLAHITTAUFIQ

Baca Selengkapnya ....

KOREKSI KESHAHIHAN HADITS (1)

Posted by admin 0 komentar
DIANTARA DALIL YANG DIPAKAI UNTUK MEMBOLEHKAN BERTAWASSUL DENGAN HAQ-NYA ORANG SHALEH :
 Dari Abu Said al Khudri  radhiyallaahu’anhu ia berkata : Rasulullah shallallahu’alaihi wasallambersabda : “Barangsiapa yang keluar dari rumahnya menuju shalat, kemudian ia berdoa : ‘Wahai Tuhanku, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu dengan haq orang-orang yang memohon kepada-Mu, dan aku mohon kepada-Mu dengan haq perjalanan saya ini kepada-Mu. Maka, sesungguhny aku tidak keluar karena sombong dan bukan karena mengkufuri nikmat, dan bukan karena riya’ (pamer), dan bukan karena mencari ketenaran, tetapi aku keluar karena takut murka-Mu dan mencari keridhoan-Mu, maka aku mohon kepada-Mu agar Engkau melindungi aku dari api neraka dan mengampuni dosa-dosaku karena tidak ada yang dapat mengampuni dosa-dosa kecuali Engkau.’Maka Allah menghadap kepadanya dengan rahmat-Nya dan akan memohonkan ampunan kepadanya tujuh puluh ribu malaikat.” (HR. Ibnu Majah dengan sanad yang shahih). 
KOREKSI DALIL  :
  1. Hadits tersebut dikeluarkan oleh Imam Ahmad di dalam Musnad-nya (3/21), Ibnu Majah dalam Sunan-nya (1/256), dan Ibnu Sunni dalam ‘Amalul Yaumi wal Lailah (85), semua bersumber dari jalan Fudhail bin Marzuq dari Athiyyah Al ‘Auf dari Abu Sa’id Al Khudri secara marfu’.
    Ini adalah sanad yang dha’if/lemah dengan beberapa alasan :
    1. Al Imam Adz Dzahabi mengatakan di dalam Al Mizan tentang ‘Athiyyah Al ‘Aufi :”Seorang tabi’in yang masyhur, lemah.
    2. Imam Ahmad yang termasuk meriwayatkan hadits ini mengatakan tentang Athiyah Al ‘Aufi : “ Dha’if dalam hadits.”
    3. Imam Nasa’i dan Jama’ah mengatakan tentang Athiyyah Al Aufi : “Dhaif.”
    4. Athiyyah di samping lemah, ia juga seorang mudallis. Imam Ahmad berkata : Sampai berita kepadaku bahwa Athiyyah datang kepada Al Kalbi , ia (Athiyyah) mengambil tafsir darinya. Dia (Al Kalbi) diberi gelar Abu Sa’id. Ia (Athiyyah) berkata : “Abu Sa’id berkata ..”
      (Orang yang tidak tahu akan menyangka bahwa Abu Sa’id yang dia sebut adalah Abu Sa’id Al Khudri, padahal yang benar adalah Al Kalbi. Hal ini merupakantadlis).
    5. Adanya Idhthirab (kegoncangan/kekacauan) Athiyyah dan Ibnu Marzuq dalam riwayatnya. Sebagaimana di sebutkan dalam As Silsilah Al Ahadits Adh Dha’ifah (1/37).
  2. Yang menyatakan bahwa hadits ini dha’if dari kalangan para huffadz :
    - Hafidz Abdul ‘Azhim bin Abdul Baqi Al Mundziri dalam “ At Targhib wat Tarhib (3/459)
    - Al Hafidz An Nawawi dalam Al Adzkaar (hal. 25)
    - Al Hafidz Al Bushiri dalam Zawaid Ibnu Majah.
  3. Di dalam Majmu’ Fatawa (1/288) disebutkan tentang hadits ini : “ Hadits ini dari riwayat Athiyyah dari Abu Said, ini adalah dha’if/lemah dengan ijma’ para ulama. Telah diriwayatkan dari jalur lain dan dha’if juga.”
    (jalur lain yang dimaksud adalah isyarat kepada jalur Wazi’ bin Nafi’ Al ‘Uqaili dari Abu Salamah bin Abdurrahman dari Jabir dari Bilal. Al Hafidz Ibnu Hajar berkata :”Ini adalah hadits yang sangat lemah.”)
WALLOHU A’LAM. WABILLAHITTAUFIQ

Baca Selengkapnya ....

Langit Akan Tetap Bening (Tentang Akibat Ikhtilat)

Posted by Unknown Jumat, 06 September 2013 0 komentar
Oleh : Al-Ustadz Abu Nasiim Mukhtar “iben” Rifai La Firlaz
Anak muda itu memanggil saya Abang. Sebenarnya tidak ada hubungan darah antara saya dan dia. Umur di antara kami memang terpaut sepuluh tahun-an. Namun, dikarenakan hubungan baik di antara kami, saya sering menyebutnya Adik. Sementara dia memanggil saya Abang dalam keseharian. Barangkali ia menganggap saya benar-benar seperti Abangnya, sehingga hal-hal pribadi pun sering ia bagikan dengan saya.

 ”Itulah Bang, sulit juga rasanya untuk melupakan dia…Gimana ya, Bang? Meskipun tidak aku harapkan, terkadang wajahnya muncul dalam mimpi-mimpiku. Memang, Bang…orangnya cantik dan baik. Itu bukan menurutku sendiri, Bang. Orang-orang pun bilang seperti itu juga.Ah…susah lah, Bang!”, keluhnya kepadaku.
Karena ia memberikan kepercayaan kepada saya, beberapa saran dan masukan pun saya berikan untuknya. Memposisikan seolah-olah sebagai Abangnya, saya sampaikan,” Sudahlah…tidak usah kau pikirkan sampai seperti itu. Belum tentu orang yang kau pikirkan saat ini, sedang memikirkanmu juga. Orang baik akan berpasangan dengan orang baik. Sebaliknya pun demikian.Kalau kau baik, jodohmu pun baik, insya Allah…”

“Apakah dia sudah ngaji Salaf?”,selanjutnya saya yang bertanya.

Anak muda itu masih berusaha jujur. Katanya,” Belum sih, Bang…Cuman dia udah berjilbab, Bang. Insya Allah dia maulah kalau disuruh pakai cadar. Gimana, Bang?”

“Begini,Dek…Semua orang yang masih normal, pasti berharap rumah tangganya kelak harmonis dan bahagia. Kau tahu, nggak? Modal terbesar untuk hidup harmonis itu apa? Kesamaan visi dan kesatuan misi. Cara pandang hidupnya harus sama. Jika tidak, akan payah nantinya. Tidak bisa juga kita ingin menyamakan visi, misi dan cara pandang hidup dengan sambil jalan. Jangan terlalu berspekulasi! Jangan-jangan…bukannya kita yang bisa membawa, malah kita yang terseret arus. Na’udzu billah”, saya coba memberi pengertian.

Saya terus melanjutkan,” Masalahnya, bukan ia mau pakai cadar ataukah tidak nantinya.Kesamaan visi dan kesatuan misi tidak hanya sebatas cadar saja. Ada aspek-aspek lain yang mesti diperhatikan. Kau kan sudah lama ngaji…sudah merasakan manisnya Thalabul Ilmi…Nah, itu yang harus kau syukuri! Kau harus menjaga nikmat ini dengan memilih istri yang telah sungguh-sungguh mengerti tentang dirimu!”

Kami lalu terdiam sambil menikmati malam.

________00000________

Percakapan di atas memang saya ungkapkan ulang di sini dengan gaya bahasa berbeda. Namun…tidak merubah makna sama sekali. Bukan sekali dua kali saya menghadapi kasus seperti ini. Berapa banyak sudah, kawan dan sahabat yang mengungkapkan hal yang sama. Sampai pastinya berapa banyaknya, saya sudah lupa. Akan tetapi, satu hal yang menarik untuk dicermati, dan barangkali inilah benang merah yang merajutkan dari semua kasus tersebut adalah budaya ikhtilat.

Ikhtilat bisa dipahami sebagai budaya perbauran antara laki-laki dan perempuan yang bukan mahram-nya dalam kondisi selain darurat. Islam sebagai ajaran mulia nan luhur sangat membatasi pergaulan antara laki-laki dan perempuan yang bukan mahram –nya. Sebagai misal adalah penyakit sosial masyarakat yang seringkali muncul karena faktor ikhtilat. Islam sendiri telah mengatur, di manakah area dan medan laki-laki dalam kehidupan sehari-hari dan di manakah pula perempuan semestinya berada.

Sudahlah…tidak usah kita mempertanyakan ulang tentang hal ini. Bukankah fakta telah berbicara? Bukankah realita pahit semacam ini merupakan kebenaran yang tak terbantahkan??? Ikhtilat memang menjadi salah satu faktor munculnya penyakit masyarakat.

Enam dari sepuluh perempuan Indonesia telah hilang kegadisannya sebelum menikah secara resmi. Hasil dari salah satu survey ini tentu membuat kulit merinding dan hati bergidik. Kasus pemerkosaan ibarat menghiasi bibir setiap harinya. Pelecehan seksual selalu mengintai di mana-mana.Apakah kita akan menutup mata dari fakta??? Aborsi merajalela, janin dan jabang bayi ditemukan teronggok di sembarang tempat, sepasang remaja yang tertangkap sedang berbuat mesum di warnet, kasus perceraian yang disebabkan perselingkuhan dengan ipar sendiri, affair antara seorang bos dengan bawahannya dan lain sebagainya. Belum lagi realita kumpul kebo di kalangan mahasiswa. Allahumma sallim.

Atau jika masih ragu (padahal semestinya tidak perlu ragu lagi), datang dan bertanyalah kepada petugas KUA-KUA,” Dalam setahun, berapakah pasangan menikah di bawah umur? Karena accident before married (hamil sebelum menikah)?”

Saat ini muncul polemik tentang wacana test keperawanan untuk calon sisiwi sekolah menengah atas. Seperti biasa, ada pro dan kontra. Namun, bukan itu yang menjadi titik pembahasan. Keprihatinan akan pergaulan bebas di kalangan pelajar bahkan bisnis prostitusi yang melibatkan pelajar, seperti itulah alasan penggagasnya.

Mufti Agung Kerajaan Arab Saudi, Syaikh Bin Baz, pernah menerbitkan fatwa mengenai hal ini (Majmu’ Fatawa Ibn Baz 4/248-253). Fatwa tersebut untuk menyanggah pernyataan seorang rektor dari sebuah kampus di Negara Yaman.

Rektor dimaksud menyatakan bahwa bentuk pendidikan dengan memisahkan antara siswa dan siswi justru menyelisihi syari’at Islam. Ia beralasan ; shalat jama’ah di masjid dilaksanakan sejak zaman Nabi Muhammad dengan tanpa memisahkan antara laki-laki dan perempuan.

“Saya merasa heran. Kenapa bisa pernyataan semacam ini diucapkan oleh seorang rektor dari sebuah kampus Islam di negeri Muslimin. Padahal semestinya ia justru dituntut untuk mengarahkan masyarakatnya –kaum laki-laki dan perempuannya- demi meraih kesuksesan dan keselamatan dunia akhirat.Inna lillah wa inna ilaihi ra’jiun Laa haula wa laa quwwata illa billah”, Syaikh Bin Baz memulai sanggahannya dengan menyatakan demikian.

Beliau melanjutkan,” Tidak perlu diragukan lagi bahwa pernyataan tersebut merupakan pelanggaran besar terhadap syari’at Islam! Sebab, syaria’t Islam tidak mengajarkan ikhtilat!!!…Justru Islam melarang ikhtilat dan sangat tegas dalam hal ini!!”
Setelah itu beliau menyebutkan sejumlah ayat dan beberapa hadits Rasulullah untuk menjelaskan bahwa Islam sangat antipati terhadap budaya ikhtilat. Sehingga,proses belajar mengajar yang menggunakan metode ikhtilat sangatlah bertentangan dengan Islam.
Hmmm…pembahasan ini pasti akan panjang lebar.

Baiklah…Kita kembali saja ke salah satu pointnya.”Langit Akan Tetap Bening” sejatinya ditujukan untuk ikhwan-ikhwan muda Salafy yang masih juga belum lepas dari kenangan “manis” nya di saat kuliah atau di bangku sekolah. Jerat-jerat ikhtilat telah meninggalkan kesan pahit setelah ia serius mengaji Salaf. Bayang-bayang masa lalunya seakan terus mengejar. Walaupun sebagian orang menyebutnya sebagai masa-masa paling indah “kisah kasih di sekolah”, tetap saja kaum muda Salafy yang telah memilih jalan Thalabul Ilmi akan menganggapnya sebagai kenangan “pahit”.

_____0000____
 
“Lah gimana,Ustadz…Tiap hari pasti ketemu di sekolah. Sama-sama berada di dalam ruangan kelas selama sekian lama. Banyak kegiatan yang dilalui bareng-bareng. Khan nggak mungkin momen-momen seperti itu pergi tanpa kesan”

Kalimat-kalimat semacam di atas pun pernah menjadi salah satu bahan diskusi saya dengan beberapa ikhwan yang masih aktif sekolah (dahulu). Budaya ikhtilat memang sebuah problem besar bagi kalangan muda yang serius untuk mengaji.

Dalam sebuah kajian di salah satu SMA Negeri, pertanyaan tentang ikhtilat dan pacaran seakan mengalir tiada henti. Ada pertanyaan yang langsung disampaikan secara verbal juga ada yang bertanya dengan menggunakan selembar kertas, terutama peserta akhwat.Bahkan satu dua pertanyaan sangat “menggelikan” karena terkait dengan kontak komunikasi antara ikhwan dan akhwat sesama pengurus Kajian Sekolah.

Salah satu pertanyaan yang sulit saya lupakan hingga saat ini kurang lebih demikian.

“Ustadz, apakah hukumnya seorang ikhwan yang sama-sama berjanji dengan seorang akhwat. Keduanya setelah lulus SMA akan berangkat mondok di tempat yang berbeda. Setelah itu mereka berdua sepakat untuk menikah?”

Geeerrrrr…ada tawa secara koor yang tak dapat ditahan ketika saya membacakan pertanyaan itu.

Sebenarnya gundah gulana yang dirasakan oleh mereka yang ingin dan sedang serius mengaji, sementara mereka masih berjiwa muda adalah bersumber dari ikhtilat. Seakan percuma saja nasehat untuk menundukkan mata di sampaikan, ajaran untuk menjaga hati dari syahwat diungkapkan atau trik-trik lain untuk terhindar dari godaan syahwat. Sebab, sumber segala-galanya masih juga ada. Jangan bermain api jika tidak ingin terbakar. Kalau tak mau basah, kenapa bermain air???

Syaikh Utsman As Salimi hafizhahullah dalam sebuah kesempatan menyampaikan nasehat yang sangat mengena di hati.Kata beliau,” Syahwat itu muncul jika digelorakan. Oleh sebab itu, jangan pernah engkau membangkitkannya!!! Jauhi faktor-faktor yang dapat membangkitkan syahwat terlarang. Syahwat yang terus diikutkan tidak akan pernah ada habisnya”

Nah…anak muda yang saya sebutkan di atas atau yang anak muda lainnya yang bernasib sama,tentu tepat untuk meresapi nasehat Syaikh Utsman di atas. Bagaimana bisa melupakan kenangan lama, sementara facebook milik “nya” terus menerus ” diintip-intip”??? Bagaimana mungkin dapat menghapus bayang-bayang “nya”, sementara diri “nya” selalu dilamunkan? Tentu akan sulit dilupakan jika selalu dikenang!!!

Ada saja alasan yang terus ditampilkan oleh setan untuk mengungkung manusia agar sulit melupakan masa lalunya.Bahkan tidak jarang,alasan tersebut terkesan ilmiah dan benar. Sebagai contoh adalah satu pertanyaan yang pernah diajukan kepada saya pada salah satu Kajian di Kalimantan.

“Apakah boleh, Ustadz. Seseorang mendoakan kebaikan untuk mantan kekasihnya?”

Terasa indah kan, alasannya? Ketika itu saya kemudian menjelaskan tentang keharusan untuk saling mendoakan di antara kaum muslimin. Akan tetapi, apakah tidak ada orang lain yang lebih berhak untuk didoakan? Orangtua, saudara atau kerabat dekat, misalnya .Apakah ada alasan baginya mendoakan mantan kekasih,sementara masih ada orang yang lebih berhak untuk didoakan? Selain itu, hal semacam ini tentu hanya akan membekaskan penyakit-penyakit hati.

_____00000_____
 
Ibnu Qayyim di dalam Raudhatul Muhibbin menukilkan beberapa kisah cinta yang kiranya perlu untuk disampaikan di sini. Dari dua kisah yang akan saya sebutkan dalam tulisan ini, ada satu hal yang harus ditarik sebagai sebuah kesimpulan ; Hawa nafsu harus dikekang di dalam bingkai syari’at!!! Jangan terseret arus syahwat!!!

Seorang pemuda ahli ibadah pernah tertarik kepada seorang wanita jelita.Tumbuhlah rasa cinta di antara mereka berdua. Cinta si pemuda ternyata disambut oleh wanita tersebut. Bahkan hubungan di antara mereka berdua dapat dirasakan oleh hampir seluruh warga Mekkah.

Di sebuah lokasi sepi, si wanita kembali mengucapkan cinta.Sang pemuda pun mengungkapkan hal yang sama.

“Aku ingin engkau menciumku”, kata si wanita tersebut.

Sang pemuda menjawab,” Aku pun demikian”.

“Lalu kenapa engkau tidak melakukannya?”, tanya si wanita.

Sang pemuda menjelaskan,” Celaka! Sungguh aku pernah mendengar sebuah firman Allah yang berbunyi,

الْأَخِلَّاءُ يَوْمَئِذٍ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ إِلَّا الْمُتَّقِين
“Orang-orang yang saling mencintai (selama di dunia) pada hari itu (hari kiamat) sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain kecuali orang-orang yang bertaqwa.” (QS. 43:67)

“Demi Allah, aku tidak berharap hubungan kita di dunia ini berubah menjadi permusuhan di hari akhir kelak”, pemuda itu mengucapkan kata-kata ini sambil bangkit berdiri lalu pergi. Kedua matanya tak mampu menahan air mata.
………..

Kota Kufah juga menyimpan banyak cerita tentang cinta. Seorang pemuda tampan pernah tinggal menetap di sana,di sebuah kampung suku Nakha’. Secara kebetulan, pemuda itu melihat seorang gadis jelita yang membuatnya jatuh cinta. Jiwanya merasakan gelisah oleh cinta.

Lalu pemuda itu datang menemui ayah si gadis untuk menyatakan pinangan. Ternyata, gadis tersebut telah dilamar oleh sepupunya sendiri. Betapa berat rasa di hati! Pemuda itu benar-benar kecewa.

Si gadis yang mengetahui rasa cintanya lalu memerintahkan seseorang untuk menyampaikan pesan kepada sang pemuda.

“Aku sudah mengetahui perasaanmu kepadaku. Ternyata aku pun merasakannya. Sekarang silahkan engkau pilih, aku yang pergi untuk menemuimu ataukah aku berusaha mencarikan jalan agar engkau bisa menemuiku di rumahku?”, seperti itulah pesan si gadis.

Pemuda itu lalu menjawab,” Sampaikanlah kepadanya! Tidak ada satu pun yang aku pilih. Aku sangat takut dengan adzab yang pedih jika durhaka kepada Nya. Aku takut Neraka Nya yang tidak pernah berhenti kobaran apinya juga tidak akan berkurang panasnya”.

Melihat kenyataan dari jawaban sang pemuda, gadis itu lalu berujar,” Dengan besarnya rasa cinta di hati, ia masih juga takut kepada Allah??? Sungguh, hanya dia yang berhak atas diriku”.

Sejak hari itu, si gadis meninggalkan kehidupan dunia dan memilih menjalani hari-hari ibadah sampai tidak berapa lama kemudian ia meninggal sambil menyimpan cinta kepada si pemuda.

Tidak lama berselang, si pemuda itu juga meninggal dunia.

_____00000_____
 
Ada serangkai doa yang pernah diucapkan oleh Rasulullah kepada seorang pemuda (hadits Abu Umamah riwayat Imam Ahmad). Sambil mengusapkan telapak tangan di dada anak muda itu, Nabi Muhammad berucap,”

اللّهُمَّ اغْفِرْ ذَنْبَهُ وَطَهِّرْ قَلْبَهُ وَحَصِّنْ فَرْجَهُ

“Ya Allah…ampunilah dosanya.Sucikanlah hatinya dan jagalah kemaluannya”

Anak muda tersebut mula-mula datang menemui Rasulullah dengan harapan diijinkan berbuat zina. Walaupun sebagian sahabat yang hadir saat itu merasa tersinggung, namun Rasulullah menghadapinya dengan penuh kelembutan dan kesabaran.

Nabi Muhammad justru bertanya kepada anak muda tersebut, jika perbuatan zina itu menimpa ibunya? Menimpa saudari perempuan atau bibinya? Bagaimanakah sikapnya jika hal itu menimpa keluarganya? Dengan tegas anak muda itu menyatakan tidak senang.Nah,seperti itulah yang dirasakan oleh orang lain. Rasulullah berhasil menanamkan cara bersikap yang lurus kepada anak muda itu. Tak lupa Rasulullah mendoakannya.

Bukankah kita sangat membutuhkan doa semacam ini???

_____00000_____
 
Cinta itu memang unik. Apapun definisi tentang cinta yang diungkapkan pasti akan berujung dengan perdebatan.Wajar saja jika seorang ulama menyatakan ; cinta itu tidak mungkin bisa didefinisikan. Mendefinisikan cinta sama artinya dengan mempersempit makna cinta. Apalagi jika berurusan dengan “cinta pertama” yang seringnya lahir di saat sekolah maupun di bangku kuliah.Sebuah musibah besar yang muncul karena dosa ikhtilat.

Untuk anak muda yang saya sebutkan di awal tulisan, juga kepada anak-anak muda lainnya. Mereka yang telah diberi kesempatan oleh Allah untuk mereguk manisnya Thalabul Ilmi, menjalani hari-hari dengan mengaji Salaf. Mereka yang telah diberi hidayah untuk mencintai Al Qur’an dan As Sunnah. Barangkali saya bisa menitipkan sebuah pesan melalui tulisan ini.

“Belum tentu yang engkau anggap baik, akan benar-benar baik nantinya. Mengapa harus terbelenggu oleh kenangan-kenangan lama? Padahal Allah telah berjanji untuk memberikan pengganti yang jauh lebih baik, bagi hamba yang siap meninggalkan sesuatu karena Nya.

Hargailah Manhaj Salaf yang telah engkau pilih ini! Tidak ada yang lebih berharga di dunia ini selain Manhaj Salaf.

Peganglah erat-erat Thalabul Ilmi yang telah engkau pilih! Jangan mau engkau terhalang dari Thalabul Ilmi hanya karena terganggu oleh kenangan-kenangan lama.

Yakinlah…di sana masih banyak mutiara-mutiara terpendam yang selalu siap untuk engkau petik. Seorang wanita shalehah yang hidup dalam kesucian dan ‘iffah. Seorang wanita yang akan selalu membantu dirimu untuk sama-sama beribadah kepada Allah. Seorang wanita yang menjadi salah satu perhiasan terbaik di dunia ini. Seorang wanita yang akan menjadi istrimu untuk sama-sama berjuang di atas Manhaj Salaf.

Anggap saja kenangan-kenangan lama itu sebagai mendung yang hanya sesaat melintas. Engkau yang telah memilih Manhaj Salaf adalah langit. Mendung-mendung itu pasti akan berlalu. Sebab, langit akan tetap bening”

(_pekan terahir di bulan Syawwal 1434_untuk seorang sahabat di salah satu belahan Timur Tengah…semoga engkau sukses di dalam meniti hari-harimu,Hafidzakallahu)

Sumber :  ibnutaimiyah.org



Baca Selengkapnya ....

SEPUTAR ILMU NUJUM (ASTROLOGI)

Posted by Unknown Rabu, 28 Agustus 2013 0 komentar
قَالَ البُخَارِيُّ فِي صَحِيحِه: قَالَ قَتَادَةُ: (خَلَقَ اللهُ هَذِهِ النُّجُومَ لِثَلَاثٍ: زِينَةً لِلسَّمَاءِ، وَرُجُومًا لِلشَّيَاطِينِ، وَعَلَامَاتٍ يُهْتَدَى بِهَا. فَمَنْ تَأَوَّلَ فِيهَا غَيْرَ ذَلِكَ فَقَدْ أَخْطَأَ، وَأَضَاعَ نَصِيبَهُ، وَتَكَلَّفَ مَا لَا عِلْمَ لَهُ بِهِ) انْتَهَى.
Dalam Shahîh-nya, Al-Bukhâry berkata: Qatâdah berkata,
“Allah menciptakan bintang-bintang ini untuk tiga (hikmah): sebagai hiasan langit, sebagai alat pelempar syaithan, dan sebagai tanda-tanda penunjuk (arah dan sebagainya). Oleh karena itu, barang siapa yang berpendapat dengan selain (ketiga) hal tersebut dalam masalah ini, sungguh dia telah salah dan menelantarkan bagiannya serta membebani diri dengan hal yang dia tidak ilmui.”

Baca Selengkapnya ....

Agar Wanita Tidak di Perdaya

Posted by Unknown Selasa, 20 Agustus 2013 0 komentar
Wanita ikutan jadi kontestan pemilukada? Kampanye keliling ke mana-mana, tanpa malu-malu tampil di depan para lelaki dan posternya dipasang di mana-mana. Ah… sudah biasa, tidak aneh di zaman modern ini? Jangankan jadi kepala daerah, bupati, atau gubernur, jabatan presiden juga pernah diduduki oleh seorang wanita.

Baca Selengkapnya ....

MENGHADAPI KEZALIMAN PENGUASA DGN SABAR & DOA, BUKAN AKSI DI JALANAN

Posted by Unknown Minggu, 18 Agustus 2013 0 komentar
Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ رَأَى مِنْ أَمِيرِه شَيْئًا يَكْرَهُهُ فَلْيَصْبِرْ فَإِنَّهُ مَنْ فَارَقَ الْجَمَاعَةَ شِبْرًا فَمَاتَ فَمِيتَةٌ جَاهِلِيَّةٌ

“Siapa yang melihat sesuatu yang ia benci pada pemimpinnya, hendaklah ia bersabar, karena sungguh siapa yang memberontak kepada pemerintah muslim kemudian ia mati, maka mati jahiliyah.” [Muttafaq 'alaih dari Ibnu Abbas radhiyallahu ’anhuma]

Beliau shallallahu’alaihi wa sallam juga bersabda,

إِنَّكُمْ سَتَرَوْنَ بَعْدِي أَثَرَة وَأُمُورًا تُنْكِرُونَهَا قَالُوا فَمَا تَأْمُرُنَا يَا رَسُولَ اللهِ قَالَ أَدُّوا إِلَيْهِمْ حَقَّهُمْ وَسَلُوا اللَّهَ حَقَّكُمْ

“Sungguh kalian akan melihat kecurangan & kemungkaran (penguasa).” Mereka bertanya, “Apa yang engkau perintahkan kepada kami wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Tunaikan hak mereka & mintalah (berdoa) kepada Allah hak kalian.” [Muttafaq 'alaih dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu’anhu]

Memberontak yang dilarang ada dua bentuk, dengan senjata & kata-kata; menjelek-jelekan pemerintah muslim di khalayak, seperti menyebarkan aib di media & melakukan demonstrasi, terlarang dalam Islam, dan sebagai solusinya sabar & doa.

Al-Imam Al-Hasan Al-Basri rahimahullah berkata,

“Sungguh Al-Hajjaj (penguaza zalim) adalah azab Allah, janganlah kalian hadapi azab Allah dgn kekuatan kalian, tapi hendaklah merendahkan diri karena takut kepadaNya & tunduk berdoa, karena Allah ta’ala berfirman,

وَلَقَدْ أَخَذْنَاهُمْ بِالْعَذَابِ فَمَا اسْتَكَانُوا لِرَبِّهِمْ وَمَا يَتَضَرَّعُونَ

“Dan sungguh Kami telah timpakan kepada mereka azab, namun mereka tidak takut kepada Rabb mereka & tidak pula berdoa.” [Al-Mu’minun: 76]

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata,

"Ulama memerintahkan umat utk sabar menghadapi kezaliman penguasa & tidak memberontak, meski banyak ahli ilmu & ibadah pernah memberontak tetap saja hal itu salah.” [Minhajus Sunnah, 4/315-316]

Baca Selengkapnya ....

Mempertahankan Identitas Muslim di Tengah Derasnya Arus Globalisasi Mode

Posted by Unknown 0 komentar
Para pembaca, sesungguhnya agama Islam tidak melarang seseorang mencari sumber penghidupan, namun hendaknya semua itu tidak sampai membuatnya lupa mencari kebahagiaan negeri akhirat. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ ۖ وَلَا تَنسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا ۖ وَأَحْسِن كَمَا أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَ ۖ وَلَا تَبْغِ الْفَسَادَ فِي الْأَرْضِ ۖ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَ


Baca Selengkapnya ....

Penerimaan Santri Baru

Posted by admin Sabtu, 17 Agustus 2013 0 komentar
MA’HAD MANARUS SUNNAH BANYUMAS
Alamat : Karangduren, RT.05/06 Desa Purwojati , Kec Purwojati, Kab Banyumas 53175

PENERIMAAN SANTRI BARU
TAHUN1434 H/ 2013 M
(Pendidikan Untuk Tingkat Dasar  Program ± 2 Tahun)

Baca Selengkapnya ....

Biografi Abdullah bin Abbas radhiallahu 'anhuma : Sang Penerjemah Al-Quran

Posted by Unknown Rabu, 14 Agustus 2013 0 komentar
إِنَّ اللهَ يَرْفَعُ بِهَذَا الْكِتَابِ أَقْوَامًا وَيَضَعُ بِهِ آخَرِينَ
“Sesungguhnya Allah mengangkat derajat suatu kaum karena kitab ini (yakni Al-Quran) dan merendahkan kaum lainnya dengannya.” [H.R. Muslim dari shahabat Umar bin Al-Khaththab radhiallahu 'anhu


Baca Selengkapnya ....

Surat Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab Kepada Penduduk Qashim

Posted by admin Sabtu, 27 Juli 2013 0 komentar
Bismillahirrahmanirrahim

Aku mempersakasikan kepada Allah dan semua yang hadir di dekatku dari para malaikat, dan aku mempersaksikan pada kalian, bahwa aku menyakini apa yang diyakini oleh Al-Firqah An-Najjiyah yaitu Ahlus Sunnah Wa Al-Jama'ah, berupa keimanan kepada Allah, malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya,rasul-rasul-Nya, (keimanan) kepada kebangkitan setelah kematian, dan keimanan kepada takdir, yang baiknya dan yang buruknya.

bersambung....

Baca Selengkapnya ....

Al-Waqidi dan Sekantong Dirham

Posted by Unknown Jumat, 21 Juni 2013 0 komentar
Al-Qadhi iyadh rahimahullah dalam kitab beliau Tartibul Madarik menyebutkan; "Aku memiliki dua orang sahabat, salah satunya adalah dari Bani hasyim. Suatu saat aku ditimpa kesempitan. Lalu istriku berkata, "Sungguh kita bisa bersabar atas kesulitan ini. Namun anak anak kita, hatiku terluka melihat keadaan mereka. Apakah kita bisa melakukan sesuatu bagi mereka?"

Aku pun menulis surat kepada sahabatku dari bani Hasyim. Aku minta tolong kepadanya tentang tentang keadaanku. Kemudian ia mengirimkan sebuah kantong yang masih tersegel. Dia sebutkan di dalamnya ada 1000 Dirham. Belum sampai aku membukanya, ternyata aku menerima surat dari temanku yang lain. Dia juga mengalami kesulitan sama sepertiku. aku pun serahkan kantong itu dalam keadaan sama seperti saat aku menerimanya.

Kemudian aku pergi ke masjid untuk bermalam disana, karena malu terhadap istriku. Saat aku kembali, ternyata istriku menganggap baik apa yang aku lakukan.

Beberapa waktu kemudian,datanglah temanku dari Bani Hasyim membawa kantong tadi, dan masih dalam keadaan yang sama. Dia memintaku untuk jujur menceritakan apa yang terjadi. Akupun menyampaikan kepadanya. Lalu dia berkata, "Engkau mengadu kepadaku, sementara aku tidak mempunyai apa apa selain kantong yang aku berikan kepadamu. Lalu aku menulis surat kepada teman kita untuk meminta pertolongan. Lalu dia mengirimkan kantong ini dan masih ada segelku." Lalu kami membagi uang itu menjadi tiga bagian, setelah menyerahkan 100 dirham untuk istriku.

Sampailah berita ini kepada Al-Makmun. Dia lalu memanggilku. Setelah aku menyampaikan peristiwa kami kepadanya, dia memberiku 7000 dinar. Masing-masing dari kami bertiga 2000 dinar dan untuk istriku 1000 dinar.

Sumber: Majalah Qudwah

Baca Selengkapnya ....
Copyright of MANARUS SUNNAH.